Menyiapkan bekal nasi untuk anak sekolah mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Saya dan Istri sebisa mungkin harus menyempatkan membuat bekal setiap hari, meskipun bentuknya kadang gagal, proporsi gizinya belum seimbang, dan presentasinya jauh dari sempurna. Namun di balik bekal yang sederhana itu, tersimpan cerita yang lebih dalam. Setiap pagi buta, sebelum matahari benar-benar terbit sudah sibuk di dapur menanak nasi, menyiapkan lauk, dan memastikan semuanya siap sebelum anak berangkat. Di sela rasa kantuk dan waktu yang sempit, terselip niat tulus agar anaknya bisa berangkat dengan perut kenyang dan hati hangat.
Bagi Kami, membawa bekal dari rumah adalah sebuah kemewahan kecil di tengah rutinitas yang padat. Saat kotak bekal itu dibuka, bukan hanya rasa lapar yang hilang, tapi juga ada kehangatan rumah yang ikut hadir. Setiap suapan seolah membawa pulang kenangan aroma dapur, suara sendok yang beradu, dan kasih sayang yang diam-diam disisipkan lewat masakan. Bekal itu menjadi jeda kecil yang menenangkan di tengah tumpukan kerjaan dan pikiran yang menyesakkan.
Bekal ini bukan sekadar nasi dan lauk pauk. Ia adalah bentuk cinta yang tidak diucapkan, tapi diwujudkan dalam tindakan nyata. Setiap suapan adalah doa, setiap rasa adalah perhatian. Dari bekal tersebut Kita belajar bahwa cinta tidak harus indah di ucapan atau kata kata, tapi cukup nyata dalam rasa. Sekecil apa pun perhatian tulus dari orang terkasih, itu adalah bahan bakar terbaik untuk melewati hari yang berat karena cinta sejati sering kali hadir dalam hal-hal sederhana, seperti seporsi nasi hangat di dalam kotak makan siang.
Semoga tulisan ini kelak Dia (red : Asyaqil) baca dan memahami makna tentang cinta, kasih sanyang dan harapan untuk setiap hari yang bahagia.
