Ada fase dalam perjalanan akademik yang tak pernah benar-benar tercatat di transkrip nilai. Ia hidup di balik layar presentasi, di antara rapat-rapat daring yang melelahkan, dan pada malam-malam ketika kata deadline terasa seperti detak jam yang semakin keras. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah salah satu fase itu sunyi, menantang, namun penuh makna.
Hari ini, semua itu telah kami lalui.
PKM bukan sekadar rangkaian administrasi, proposal, revisi, dan laporan akhir. Ia adalah perjalanan panjang yang menguji kesabaran, konsistensi, dan kepercayaan diri mahasiswa. Ada saat ketika ide terasa begitu besar, tetapi kemampuan terasa begitu kecil. Ada masa ketika kelelahan hampir mengalahkan semangat. Namun, di situlah kami belajar: bahwa bertahan adalah bagian dari proses berkarya.
Menyelesaikan seluruh tahapan PKM menghadirkan rasa lega yang tidak berisik. Tidak ada sorak sorai berlebihan, hanya tarikan napas panjang dan senyum yang muncul perlahan. Sebuah kesadaran sederhana: kami berhasil sampai di titik ini. Sertifikat penyelesaian PKM bukan hanya lembaran resmi ia adalah bukti bahwa kerja keras, diskusi tanpa henti, dan keberanian mencoba telah menemukan ujungnya.
Namun syukur kami tidak berhenti di sana.
Ketika pengumuman kelolosan menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) disampaikan, suasana berubah. Ada hening sesaat, lalu mata yang saling mencari kepastian. Nama mahasiswa disebutkan, dan dunia seakan berhenti sejenak. Kami tahu, perjalanan ini telah melampaui target awal. Mahasiswa yang Saya dampingi, kami dorong, dan kami yakini, kini melangkah ke panggung nasional membawa gagasan, kerja tim, dan harapan institusi.
Sertifikat kelolosan ke PIMNAS adalah simbol kepercayaan. Bahwa ide mahasiswa layak didengar, bahwa upaya mereka pantas mendapat ruang, dan bahwa pendidikan bukan hanya soal belajar, tetapi tentang diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Di titik ini, rasa syukur menjadi lebih dalam. Syukur kepada mahasiswa yang tidak menyerah. Syukur kepada tim yang bekerja dalam sunyi. Syukur kepada setiap proses yang mungkin terasa berat saat dijalani, namun kini terasa indah ketika dikenang. Kami belajar bahwa keberhasilan bukan selalu tentang juara, tetapi tentang sampai dengan utuh tanpa kehilangan nilai dan integritas.
PKM telah selesai, tetapi maknanya tinggal.
Ia akan hidup dalam ingatan tentang bagaimana kolaborasi dibangun, bagaimana kegagalan dihadapi, dan bagaimana keberanian untuk bermimpi besar dilatih sejak dini. PIMNAS bukanlah garis akhir, melainkan jendela baru tempat mahasiswa melihat dunia akademik yang lebih luas, dan melihat diri mereka sendiri dengan keyakinan yang baru.
Hari ini, kami memilih untuk bersyukur. Bukan karena perjalanan ini mudah, tetapi karena kami mampu menjalaninya bersama. Dan di sanalah, pendidikan menemukan maknanya yang paling manusiawi.
