Sebuah Tamiya dan Kenangan yang Kembali Hidup

Dulu, waktu masih kecil, ada satu mainan yang selalu terlihat paling keren di kampung saya: mobil Tamiya. Bentuknya kecil, tapi terasa begitu istimewa. Warnanya mencolok, desainnya seperti mobil balap sungguhan, dan suaranya khas saat melaju di lintasan. Buat anak-anak waktu itu, Tamiya bukan sekadar mainan, tapi kebanggaan

Setiap kali ada yang bermain Tamiya, saya selalu ikut berdiri di pinggir lintasan. Melihat mereka memasang baterai, menyetel roda, mengganti dinamo, lalu bersorak ketika mobilnya melaju paling cepat. Saya menikmati semuanya dengan penuh kagum.

Meski begitu, saya hanya bisa melihat dari jauh.

Waktu itu, membeli satu mobil Tamiya bukan hal yang mudah. Harganya terasa mahal untuk keadaan keluarga kami saat itu. Jangankan membeli lengkap dengan dinamo dan sparepart, untuk meminta saja rasanya tidak tega. Akhirnya saya memilih diam dan menyimpan keinginan itu sendiri.

Kadang saya pulang sambil membayangkan, bagaimana rasanya punya satu mobil Tamiya milik sendiri. Membuka kotaknya perlahan, merakit bagian demi bagian, memasang stiker, mengencangkan baut kecil, lalu menjalankannya untuk pertama kali di lintasan. Namun semua itu hanya berhenti sebagai angan-angan masa kecil.

Tahun demi tahun berlalu. Saya tumbuh dewasa, sibuk dengan kehidupan, pekerjaan, dan berbagai tanggung jawab. Kenangan tentang Tamiya perlahan tenggelam bersama waktu.

Sampai hari ini.

Hari ini saya duduk di lantai rumah bersama anak dan istri saya. Di depan kami ada satu kotak Tamiya yang baru saja dibuka. Sparepart kecil berserakan, roda belum terpasang, dan buku panduan terbuka di samping kami. Anak saya terlihat begitu antusias, sementara saya diam-diam merasa seperti sedang bertemu kembali dengan masa kecil sendiri.

Pelan-pelan saya mulai merakit mobil itu.

Saat saya memasang roda dan istri membantu menempelkan stiker, tanpa sadar saya tersenyum sendiri. Rasanya seperti ada bagian kecil dari mimpi masa kecil yang akhirnya datang, meski terlambat. Dan ketika mobil itu akhirnya selesai dirakit lalu berjalan untuk pertama kalinya, ada rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Ternyata hidup memang sering seperti itu.

Ada mimpi-mimpi kecil yang dulu tidak sempat kita miliki. Bukan karena kita tidak ingin, tetapi karena keadaan belum memungkinkan. Namun waktu berjalan dengan caranya sendiri. Hari ini mungkin kita tidak lagi membeli mainan untuk diri sendiri, melainkan untuk anak kita. Tapi anehnya, kebahagiaan itu tetap sampai ke hati kecil kita yang dulu pernah menyimpannya diam-diam.

Hari ini saya sadar, anak kecil yang dulu hanya bisa melihat orang bermain Tamiya dari kejauhan… akhirnya bisa menyentuh mimpinya juga.

Bedanya, sekarang saya merakitnya bersama istri untuk anak saya.

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.
Nanang Durahman Selamat datang di WhatsApp chat
Assalamualikum?
Tulis disini...