Menurut Imam Asy-Syafi'i, seseorang yang memiliki akal, ilmu, dan adab tidak seharusnya merasa cukup hanya dengan kehidupan di kampung halamannya. Ia dianjurkan untuk keluar dari zona nyaman, merantau, dan mencari pengalaman serta pengetahuan baru di tempat lain. Melalui perjalanan tersebut, seseorang akan memperoleh wawasan yang lebih luas, menemui berbagai karakter manusia, serta belajar menghadapi beragam tantangan kehidupan. Oleh karena itu, tidak perlu merasa khawatir meninggalkan keluarga atau sahabat di kampung halaman, sebab Allah akan menghadirkan pengganti berupa teman, guru, dan lingkungan baru yang dapat menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Selain itu, Imam Asy-Syafi'i menekankan pentingnya bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan. Kenikmatan hidup sejatinya bukan diperoleh melalui kemudahan tanpa usaha, melainkan melalui proses perjuangan yang penuh kesabaran. Hasil yang diraih dari jerih payah sendiri akan terasa lebih bernilai, lebih bermakna, dan lebih membawa keberkahan dibandingkan dengan sesuatu yang diperoleh tanpa usaha.

Untuk memperkuat pesan tersebut, Imam Asy-Syafi'i menggunakan perumpamaan air yang mengalir. Air yang terus mengalir akan tetap jernih, segar, dan memberikan manfaat bagi kehidupan. Sebaliknya, air yang tergenang dalam waktu lama akan menjadi keruh dan kehilangan kualitasnya. Perumpamaan ini menggambarkan bahwa manusia perlu terus bergerak, belajar, dan mengembangkan diri. Seseorang yang enggan keluar dari lingkungan yang sama atau menolak perubahan berpotensi mengalami stagnasi sehingga sulit berkembang dan mengoptimalkan kemampuannya.
Beliau juga memberikan ilustrasi tentang seekor singa yang tidak akan memperoleh mangsa apabila hanya berdiam diri di sarangnya. Demikian pula anak panah yang tidak pernah dilepaskan dari busurnya tidak akan pernah mencapai sasaran. Kedua analogi tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui keberanian untuk melangkah, mengambil risiko, dan melakukan tindakan nyata.
Perumpamaan lain yang disampaikan adalah tentang matahari yang senantiasa bergerak sesuai ketetapan Allah sehingga kehidupan di bumi mengalami pergantian siang dan malam. Perubahan yang terus berlangsung menciptakan dinamika dan keseimbangan kehidupan. Sebaliknya, sesuatu yang tidak mengalami perubahan akan menimbulkan kejenuhan. Hal ini menjadi isyarat bahwa manusia pun harus terus berinovasi, beradaptasi, dan meningkatkan kualitas dirinya agar tetap relevan dan bermanfaat.
Imam Asy-Syafi'i juga mengibaratkan emas yang masih terkubur di dalam tanah. Selama tidak digali dan diolah, emas tersebut akan tampak seperti tanah biasa sehingga nilainya tidak diketahui. Demikian pula kayu gaharu yang bernilai tinggi tidak akan memiliki harga istimewa apabila tetap berada di antara tumpukan kayu lainnya tanpa diproses. Analogi ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki potensi yang berharga, namun potensi tersebut tidak akan terlihat apabila tidak diasah melalui pengalaman, pembelajaran, dan keberanian menghadapi tantangan.
Oleh karena itu, seseorang yang tidak pernah berani meninggalkan zona nyamannya dikhawatirkan akan membiarkan berbagai kelebihan yang dimilikinya tetap tersembunyi. Ia mungkin hanya dikenal sebagai bagian dari masyarakat biasa, padahal sesungguhnya memiliki kemampuan besar yang dapat berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang apabila diberi kesempatan untuk tumbuh. Dengan demikian, merantau bukan semata-mata berpindah tempat, melainkan sebuah proses pembentukan karakter, perluasan wawasan, dan pengembangan potensi diri agar seseorang mampu mencapai kualitas hidup yang lebih baik serta memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat.
إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ
إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
Sungguh aku melihat, air yang tergenang dalam diamnya, justru akan tercemar lalu membusuk. Jika saja air tersebut mengalir, tentu ia akan terasa lezat menyegarkan. Tidak demikian jika ia tidak bergerak mengalir.
Safir Tajid ‘Iwadhan ‘Amman Tufariquhu
(imam Syafi’i)
bepergianlah... maka engkau akan mendapatkan pengganti apa yang kamu tinggalkan.
merantaulah, hijrahlah....
tinggalkanlah tempat tinggalmu untuk belajar, kuliah, atau bekerja karena Allah.
”air yang mengalir jauh lebih baik dari air yang tergenang.”
Menurut Imam Syafii, jika seseorang mengalami kahambaran dalam hidup, tak ada perkembangan, tak ada tantangan, maka “Bersafarlah” travelinglah! Niscaya akan diganti dengan 3 hal rizki.
Sudut pandang rizki dalam hal ini memiliki makna yang luas, jika paradigma Rizki sebagai bentuk materi maka Tuhan akan mengganti daripadanya materi yang telah dipakai dengan tujuan bersafar itu, jadi tidak heran bahwa tujuan traveling ke suatu tempat akan mengantarkan seseorang ke tempat tempat lainnya.
Selanjutnya, jika paradigma rizki dipandang sebagai penambah jaringan pertemanan maka hal itu akan diganti dengan semakin luasnya lingkar pertemanan di tempat tujuan traveling kita. Terakhir, jika paradigma rizki tersebut dipandang sebagai memperluas wawasan maka sangat benar adanya bahwa dengan traveling seseorang akan menapaki proses pencarian ilmu dan jati diri dengan catatan traveling harus berlandaskan passion dan purpose.
Jujur, sebagai backpacker yang hobi mengunjungi tempat tempat baru, termasuk ke beberapa negara, pernyataan Imam Syafii tersebut memang benar adanya, sebab saya pula yang merasakan, Anda bagaimana? #jejakrobby #backpacker #travelgram #imamsyafii #safar
سافر تجد عوضا عمن تفارقه
_“Saafir..!! Tajid ‘Iwadhan ‘Amman Tufariquhu”_
"Pergilah maka engkau akan dapati pengganti apa yang engkau tinggalkan"
(Imam Asy-Syafi'i)
"Berjalan dan bersafarlah (berkelana)" adalah anjuran luar biasa untuk memperluas wawasan, mengasah kemandirian, dan mengambil hikmah. Safar membuka cakrawala berpikir dan menempa karakter
Air yang diam di satu tempat lama-kelamaan akan menjadi sarang kuman dan kotor, sedangkan air yang mengalir akan selalu jernih dan bermanfaat. Begitu pula dengan manusia; kita harus terus bergerak, menimba ilmu, dan merantau untuk mengembangkan potensi diri, alih-alih berdiam diri dan terjebak dalam zona nyaman
