Akhirnya, sebuah kisah perjalanan akademik tersebut termuat dalam Majalah Katalisator LLDIKTI Wilayah IV. Kehadiran tulisan ini bukanlah bagian dari target capaian yang direncanakan sejak awal, melainkan sebuah kejutan sekaligus refleksi. Dalam majalah tersebut, saya berkesempatan berbagi cerita tentang berbagai aktivitas akademik di luar kampus yang selama ini dijalani dan menjadi bagian penting dari peran dosen, meskipun sering kali luput dari sorotan.
Aktivitas dosen pada hakikatnya tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Di luar pembelajaran formal, dosen juga terlibat dalam pendampingan mahasiswa, penguatan kegiatan institusional, kolaborasi eksternal, serta berbagai bentuk kontribusi akademik lainnya. Namun demikian, sebagian dari kinerja tersebut belum sepenuhnya terakomodasi dalam sistem penilaian yang berlaku, sehingga kontribusi nyata di lapangan kerap tidak terbaca secara utuh.
Bagi saya pribadi, aktivitas di luar kelas merupakan bagian dari bekerja yang sering kali menjadi ruang pengabdian yang sunyi. Proses yang sangat panjang, menyita waktu, dan menuntut komitmen, termasuk bimbingan dan pendampingan yang berlangsung hingga malam hari melebihi jumlah beban SKS. Ironisnya, seluruh upaya tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam indikator kinerja formal yang digunakan.
Di saat Tridharma Perguruan Tinggi dijalankan secara nyata dan konsisten di lapangan, apresiasi justru kerap tertahan pada batasan administratif. Akibatnya, dosen yang aktif bekerja di luar kelas sering kali hadir dalam laporan kegiatan, namun belum sepenuhnya hadir dalam ruang penghargaan dan pengakuan institusional.
Kondisi ini patut menjadi bahan refleksi bersama, agar mekanisme evaluasi dan apresiasi kinerja dosen dapat terus disempurnakan. Dengan demikian, setiap kontribusi yang memberikan dampak positif bagi mahasiswa dan institusi dapat memperoleh pengakuan yang lebih proporsional, adil, dan selaras dengan dinamika peran dosen di perguruan tinggi.
