Beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa menghubungi saya dan meminta kesediaan untuk hadir dalam kegiatan Musyawarah Besar (Mubes) Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Dakwah Kampus (LDK) STMIK DCI Tahun 2026.
Bagi saya, undangan ini memiliki makna tersendiri. LDK merupakan organisasi pertama yang saya ikuti ketika masih menjadi mahasiswa. Di organisasi inilah saya pernah belajar menjadi bagian dari kepengurusan, mengenal dinamika organisasi, bekerja bersama tim, menyampaikan gagasan, dan belajar bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan.
Waktu kemudian membawa saya pada perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dari seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi dosen dan pada akhirnya dipercaya menjadi pembina UKM LDK. Rasanya seperti kembali ke sebuah tempat yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup, tetapi kali ini dengan posisi dan tanggung jawab yang berbeda.
Setiap tahun, organisasi ini terus mengalami perubahan. Berbagai inovasi dan program baru lahir dan berhasil dijalankan oleh para pengurus. Tentu, tidak semua proses berjalan dengan mudah. Ada tantangan, perbedaan pendapat, keterbatasan, bahkan dinamika internal yang harus dihadapi bersama. Namun, justru dari proses itulah sebuah organisasi dapat tumbuh dan menjadi semakin matang.
Hari ini, 29 Agustus 2026, LDK STMIK DCI kembali menyelenggarakan Musyawarah Besar. Mubes bukan sekadar agenda seremonial untuk mengganti kepengurusan. Lebih dari itu, Mubes merupakan ruang untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan melihat kembali perjalanan organisasi selama satu periode.
Apa yang sudah berhasil dilakukan? Apa yang masih perlu diperbaiki? Program mana yang perlu dilanjutkan? Dan hal terpenting, nilai-nilai apa yang harus tetap dijaga oleh kepengurusan berikutnya?
Pada akhirnya, setiap organisasi dapat terus eksis dan berkembang karena memiliki visi dan misi yang ingin dicapai bersama. Namun, visi dan misi saja tidak cukup. Dibutuhkan komitmen bersama untuk menjalankannya.
Komitmen itu kadang hadir dalam bentuk yang sederhana: memiliki rasa kepedulian terhadap organisasi, bersedia meluangkan waktu untuk menjalankan program kerja, mau bekerja sama dengan anggota lain, dan tetap bertahan ketika menghadapi kesulitan maupun dinamika organisasi.
Seperti pesan yang disampaikan oleh Ketua LDK Erli dalam kegiatan Mubes, berorganisasi bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga tentang bagaimana setiap anggota memiliki rasa cinta kepedulian dan rasa memiliki terhadap organisasi.
Saya berharap LDK STMIK DCI dapat terus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Bukan hanya tempat untuk menjalankan kegiatan, tetapi juga tempat untuk belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, negosiasi, kerja sama, pengambilan keputusan, manajemen konflik, dan tanggung jawab.
Sebab, kepemimpinan sejatinya tidak selalu lahir dari ruang kelas. Banyak kemampuan kepemimpinan justru ditempa melalui pengalaman: ketika harus berbicara di depan orang lain, ketika berbeda pendapat, ketika harus mengambil keputusan dalam keterbatasan, ketika program tidak berjalan sesuai rencana, dan ketika kita belajar untuk tetap bertanggung jawab terhadap amanah yang telah diberikan.
Kepada kepengurusan yang telah menyelesaikan satu periode, terima kasih atas waktu, tenaga, pikiran, dan perjuangannya. Kepada kepengurusan yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan, selamat menjalankan amanah. Jadikan periode berikutnya bukan sekadar tentang banyaknya program yang terlaksana, tetapi tentang seberapa banyak proses pembelajaran dan kebaikan yang berhasil diciptakan.
Karena pada akhirnya, organisasi boleh berganti kepengurusan, program boleh berganti setiap tahun, tetapi nilai, pengalaman, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan akan menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi. Semoga LDK STMIK DCI terus tumbuh, berinovasi, dan menjadi tempat lahirnya generasi muda yang tidak hanya mampu memimpin organisasi, tetapi juga mampu memimpin dirinya sendiri.
